Yuk, Pahami Lebih Jauh Mengenai Tinja Manusia

Setiap orang pasti mengalami pembuangan kotoran yang disebut dengan tinja atau feses. Ketika berbicara mengenai tinja, ini sedikit menjijikkan, tetapi banyak yang harus diketahui mengenai tinja. Apa sajakah itu? Simak saja beberapa diantaranya seperti yang tertulis dibawah ini.

Apa yang dimaksudkan dengan tinja? Tinja adalah sisa makanan dalam tubuh manusia yang dikeluarkan dari anus melalui proses pencernaan. Ini juga dapat disebutkan sebagai pembuangan termasuk karbon monoksida yang dikeluarkan dari tubuh manusia melalui proses pernafasan, keringat, lendir dari ekskresi kelenjar dan sebagainya. Manusia yang memiliki 2 jenis pembuangan seperti feses dan air seni dikatakan sebagai akhir proses tubuh manusia disebut sebagai Ekskreta. Inilah yang menyebabkan pemisahan pembuangan dari zat yang tidak diperlukan oleh tubuh.

Proses Pengeluaran Tinja

Proses pembuangan atau pengeluaran tinja disebut sebagai defekasi. Defekasi yang dimaksudkan disini adalah proses untuk membuang tinja atau kotoran dari sistem pencernaan. Dikatakan setiap manusia bisa membuang kotoran dalam beberapa kali sehari maupun sebaliknya.

Proses dari pembuangan tinja diakibatkan kerena adanya pergerakan peristaltis dari otot dinding usus besar dimana tinja yang digerakkan melalui saluran pencernaan menuju ke rektum. Rektum dikatakan memiliki yang disebut sebagai ampula atau sebagai penampungan sementara tinja. Sistem saraf yang mempengaruhi dinding atot rektum akan menghasilkan rangsangan untuk mengeluarkan tinja yang ada dalam tubuh. Apabila pembuangan tinja ditunda, ini akan menyebabkan tinja balik ke usus besar dan air tinja akan diserap kembali hingga tinja menjadi keras atau padat. Apabila pembuangan air besar ditunda lebih lama lagi, maka ini akan mengakibatkan terjadinya sembelit.

Apabila rektum dipenuhi dengan tinja, maka akan meningkatkan tekanan dalam rektum yang dapat mengakibatkan rangsangan buang air besar. Dalam hal tersebut akan mendorong tinja menuju ka anus. Lalu anus yang memiliki otot sphinkter akan membuka lubang anus kemudian membuang atau mengeluarkan tinja.

Pada saat proses pembuangan air besar terjadi, maka saluran cerna akan ditekan oleh otot dada, diafragma, otot dinding abdomen dan diafragma pelvis. Ini juga dapat menghentikan pernafasan sementara apabila paru-paru menekan diafragma dada. Dengan begitu, tingkat jantung memompa darah akan lebih tinggi sehingga tekanan darah meningkat.

Disini juga mengatakan bahwa feses atau tinja tidak mengisi rectum ini dikarenakan lemahnya atau mengecilnya sfingter lebih kurang 20 cm dari anus. Apabila adanya pergerakan massa pada rektum, maka akan menghasilkan keinginan defekasi atau pembuangan tinja.

Apabila timbulnya keinginan defekasi secara tiba-tiba, itu berarti rectum sudah mencapai dari 18 mmHg hingga 55 mmHg, maka sfingter ani internus dan eksternus akan melemah hingga tinja atau feses keluar.

Apabila feses atau tinja berada pada rectum, ini akan memberikan sinyal aferen pada dinding rectum hingga menyebar pada pleksus mienterikus dengan tujuan untuk menghasilkan gelombang peristaltic dalam kolon descendens, sigmoid, rectum agar feses terdorong ke anus. Ketika anus didekati oleh gelombang peristaltic, maka akan terjadinya relaksasi oleh sinyal penghambat dari pleksus mienterikus dan sfingter ani eksterni dalam keadaan sadar berelaksasi secara volunter sehingga terjadi defekasi.

Sebelum tercapainya sebuah tekanan yang dapat melemaskan sfingter ani eksternus, defekasi volunter dapat melemaskan sfingter eksternus dan mengontraksikan otot-otot abdomen. Maka dari itu, defekasi dianggap sebagai suatu reflex spinal sadar yang dapat menghambat dengan menjaga sfingter eksternus agar tetap bekerja dan mengontraksikan otot abdomen.

Apabila medula spinalis dimasuki oleh sinyal defekasi akan memberikan efek seperti pengambilan nafas yang dalam karena tertutupnya glottis, kontraksi otot dinding abdomen mendorong isi feses dari kolon menuju ke bawah dan saat bersamaan pelvis akan seacar otomatis mengalami relaksasi dan mengeluarkan cincin anus sehingga feses keluar.

Warna tinja manusia

Dengan penjelasan yang ada di atas, biasanya yang kita ketahui feses atau tinja hanya memiliki satu warna yaitu kuning kecoklatan, tetapi disini dikatakan ada berbagai warna yang ada pada feses atau tinja pada manusia seperti yang akan dibahas dibawah ini.

  • Tinja atau secara ilmiah yang disebut feses yang memiliki darah maka akan menghasilkan warna merah atau hitam.
  • Apabila mengalami masalah pada kantung empedu, maka tinja yang keluar akan menghasilkan warna pucat atau putih.
  • Tinja atau feses dengan hasil yang berwarna hijau bisa dikatakan berasal dari sayuran hijau yang dikonsumsi. Lain dari itu, bisa juga dikatakan berasal dari pewarna makanan yang dapat menyebabkan warna tinja hijau. Biasanya, kondisi ini disebabkan oleh adanya makanan yang cepat melewati usus besar. Ini terbilang sebagai proses pencernaan yang tidak sempurna.
  • Apabila warna pada feses atau tinja merah, dapat dikatakan sebagai hasil karena terjadinya pendarahan pada rectum. Jika warna merah pada tinja tampil secara menyeluruh dan bentuknya yang tidak bergaris, bisa saja dikarenakan dari makanan.
  • Bagi feses atau tinja yang berwarna hitam bisa dikatakan dari adanya darah atau bisa saja berasal dari makanan dan juga obat.
  • Layaknya untuk kita ketahui, feses atau tinja dengan warna coklat dikatakan yang disebabkan oleh sterkobilin dan urobilin dari bilirubin yang berasal dari hasil kerja bakteri. Dari adanya asam organik yang berasal dari karbohidrat karena peranan dari bakteri dianggap sebagai penyebab tinja menjadi asam. Lalu, tinja dengan bau yang tidak sedap dikatakan penyebab dari adanya bakteri.

Kandungan tinja

Dengan penjelasan dari warna tinja atau feses tersebut, tapi taukah anda ternyata feses memiliki beberapa kandungan seperti yang ada di bawah ini.

  • Mikroba

Dikatakan ada miliaran kandungan mikroba pada setiap tinja manusia. Mikroba pada tinja manusia bisa saja termasuk bakteri koli. Ini dapat tergolong sebagai mikroba patogen seperti bakteri Salmonela yang dapat menyebabkan tifus dan bakteri Vibrio cholerae yang dapat menyebabkan kolera, hepatitis A dan polio.

  • Materi organik

Seperti yang telah dijelaskan diatas, tinja pada setiap manusia dianggap sebagai sisa makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuh. Ini dapat disebutkan sebagai karbohidrat, protein, enzim, lemak, mikroba dan sel mati.

  • Telur cacing

Bagi anda yang cacingan, tinja yang dikeluarkan dikatakan dikatakan mengandung telur cacing. Ada berbagai macam jenis cacing yang dapat ditemukan dalam perut seperti cacing cambuk, cacing gelang, cacing tambang dan cacing keremi. Dikatakan lagi, ada sekitar ribuan cacing pada satiap satu gram tinja. Pada seorang yang cacingan, sebagian besar diakibatkan dari cacing cambuk dan cacing gelang.

  • Nutrien

Secara umum, nutrien dikatakan sebuah senyawa nitrogen dan senyawa fosfor yang berasal dari sisa protein dan juga sel mati. Dikatakan disini, bahwa nitrogen bisa dalam bentuk senyawa amonium dan fosfor dalam bentuk fosfat. Setiap satu liter tinja memiliki 25 gram amonium dan 30 mg fosfat.

Kesehatan dilihat dari warna dan bentuk tinja

Kesehatan seseorang dikatakan dapat diketahui dari warna dan bentuk tinja seperti yang akan dijelaskan dibawah ini.

Bentuk

  1. Tinja dengan bentuk batu kecil dan padat terpisah dikatakan karena kurangnya serat dan juga cairan. Ini dapat diatasi dengan banyak konsumsi air putih serta tidak lupa dengan buah dan sayuran.
  2. Tinja dengan bentuk panjang dan juga keras atau padat adalah sebuah kondisi tubuh yang juga kurang serat serta cairan.
  3. Tinja dengan bentuk yang hampir sama dengan sosis dan memiliki retak pada permukaan disebut sebagai normal. Retakan tersebut dapat diartikan bahwa tubuh masih kurang terhadap asupan cairan.
  4. Tinja yang seperti sosis dengan tekstur lembut dan halus merupakan hal yang sudah biasa. Ini menandakan bahwa tubuh dikatakan sehat.
  5. Tinja dengan bentuk gumpalan lembek masih dianggap normal apabila dalam sehari mengalami beberapa kali BAB.
  6. Gumpalan tinja dengan tekstur kasar dan encer ini menandakan bahwa kesehatan seseorang sedang mengalami penurunan. Ini bisa mengakibatkan diare.
  7. Tinja cair keseluruhan dikatakan bahwa seseorang mengalami diare. Ini bisa disebabkan kerena infeksi. Diare dianggap sebagai proses tubuh membersihkan diri. Selama diare, ini akan mengurangi cairan dalam tubuh, ini bisa digantikan dengan meminum banyak air.
  8. Tinja yang bisa menempel pada kloset dikatakan karena tinja banyak mengandung minyak. Kondisi ini dikatakan lemak yang tidak diserap dengan baik oleh tubuh dikarenakan Penyakit seperti pankreatitis kronis.

Warna

  1. Coklat. Ini merupakan warna tinja yang alami yang artinya tubuh sehat. Warna coklat pada tinja merupakan hasil dari empedu di liver.
  2. Hitam. Warna hitam pada tinja bisa dikatakan karena adanya penyakit maag atau kanker. Ada beberapa vitamin yang dikatakan mengandung zat besi merupakan salah-satu penyebab tinja berwarna hitam.
  3. Hijau. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa warna hijau pada tinja disebabkan karena makanan yang terlalu cepat melewati usus besar. Ini juga dapat terjadi seperti mengkonsumsi sayuran hijau.
  4. Putih, cerah, atau krem. Ini merupakan warna yang tidak lajim yang dikarenakan adanya penghalang pada saluran empedu. Selain dari itu, ini juga bisa dibilang juga akibat dari konsumsi obat-obatan.
  5. Kuning. Tinja dengan warna yang kuning dikatakan karena adanya lemak berlebih. Ini dikarenakan gangguan penyerapan.
  6. Merah dan berdarah. Tinja yang keluar mengandung darah merupakan suatu hal yang harus diwaspadai kerena ini bisa dikatakan sebagai gejala kanker.

Penyebaran penyakit melalui tinja

Seperti apa yang kita ketahui, pada umumnya penyakit dikatakan berasal dari gaya hidup yang tidak sehat. Tetapi, layaknya untuk kita ketahui bahwa penyakit juga bisa datang dari tinja seperti penjalasan dibawah ini.

Apabila tinja tidak dibuang dengan baik, ini dikatakan dapat mengakibatkan tercemarnya permukaan tanah serta air tanah yang dapat menimbulkan penyakit pada saluran pencernaan. Selain memberikan efek pada tanah dan juga air, ini juga dapat menjadi sumber infeksi yang dapat mengancam kesehatan seperti salah-satunya adalah water borne diseases. Selain tercemarnya tanah dan juga air, ini juga dapat menimbulkan penyakit seperti tifoid, paratifoid, disentri, diare, kolera, penyakit cacing, hepatitis viral dan beberapa penyakit infeksi lainnya.

Disini juga akan menjelaskan penyakit yang berasal dari tinja dan dapat tersebar pada berbagai macam cara. Penyakit bisa tersebar secara langsung seperti dengan mengkontaminasi makanan, minuman, sayuran dan sebagainya. Ini juga dapat terjadi secara tidak langsung dengan melalui media air, tanah dan serangga yang kemudian hinggap pada tubuh dan timbullah suatu penyakit.

Penyebab bau tinja yang tak biasa

Kita semuanya tau bahwa tinja manusia memiliki aroma atau bau yang paling tak sedap. Dari baunya yang sangat menyengat, tak satu orangpun yang sanggup menahan dari aroma tinja. Hal yang sangat wajar apabila menutup hidung apabila mencium bau tinja. Lalu bagaimana dengan aroma tinja yang jauh lebih bau dari pada yang biasanya dan apakah sebabnya? Berikut penjelasannya.

Tinja dengan aroma yang tidak biasa bisa saja disebabkan dari makanan yang dikonsumsi seperti daging merah, durian, petai dan jengkol. Dikatakan lagi, aroma tinja disebabkan oleh dua hal seperti makanan yang dimakan dan juga adanya bekteri yang bersarang pada usus.

Baiknya untuk kita ketahui ada sekitar 10 miliar mikroorganisme yang bersarang atau dapat ditemukan pada saluran pencernaan manusia. Bau yang berasal dari tinja dikarenakan oleh adanya gas yang masuk ke usus saat serat tak larut difermentasi. Apabila tinja manusia memiliki bau yang sangat menyengat selama beberapa hari, ini mungkin berasal dari apa yang dimakan.

Jika bau dari tinja tersebut dari hari-kehari semakin tidak sedap, jangan berpikir dua kali untuk mengunjungi dokter, kerena selain dari makanan, bau dari tinja yang tak biasa juga bisa disebabkan dari adanya masalah pada pencernaan.

Selain dari itu, peyerbab lainnya juga bisa berasal dari alergi makanan intoleransi laktosa, iritasi usus besar, penyerapan nutrisi tidak maksimal, pendaharan di saluran pencernaan hingga infeksi bakteri. Jadi jangan ragu untuk meminta saran atau solusi dari dokter.

Apabila selesai membaca artikel yang ada di atas, mudah-mudahan tidak berlalu begitu saja melainkan diingat seterusnya. Semoga ini menjadi panduan penting bagi anda sekalian. Selamat membaca.